Postingan kali ini dalam rangka mengikuti event yang diadakan oleh Mbak Rurie "(Almost) Forgotten Indonesian Culinary Heritage". Untuk lebih jelasnya bisa langsung berkunjung kesana. OK?
Saat pertama mendapatkan invitation di shoutbox ku dari Mbak Rurie, hatiku punya tanda tanya yang besar, event apa yahhh ;;) Kali pertama soalnya ada undangan event :D Maklum, kurang bergaul neh, pengalaman masih cetek hiks ;)
Lagian aku khan baru ikutan event-event foodie akhir-akhir ini, yaitu "masak bareng yukkk..." dan satu lagi kemarin yang diadakan NCC tentang donat. Soalnya juga, aku masih belum PD dalam event-event bertemakan makanan, abisnya masih pemula, dan aku kebanyakan isengnya :D
But anyway bushway, meluncurlah aku ke blog Mbak Rurie, and trararaaaaaaa..... eventnya sangat menarik dan inovatif. Tapi ... ehm tetep ada tapinya. Tapi, aku kebingungan kalau ikutan mau masak apa yah, mau bikin apa yah. Terus terang pengetahuanku yang kayak beginian cetek bangets, hehehe gak ngerti pokoknya mau bikin apa. Ku critain ama suami, suami juga bingung ngasih ide makanan apa yang hampir punah :D Dan satu hal lagi, tentang poto mempoto. Weisss... ini mah aku sangat amatiran, lagian kameraku juga bukan kamera canggih, bukan kamera SLR atau apa yang canggih itu lah. Namun memang aku suka moto, moto seadanya dan terus belajar. Hobby bo' setelah jadi Ibu Rumah Tangga di perantauan hehehhe ...
Ok, informasi event ini aku print, aku baca-baca terus dan mencoba untuk mendatangkan ide. Namun apa daya, otakku terbatas heheh ... idepun gak muncul-muncul. Nah tiba aku berkunjung lagi ke blog Mbak Rurie lagi, ternyata blio sudah memberikan clues banyak makanan yang hampir punah. Nah, dari situlah aku coba cerna. Ehm kayak makanan ajah dicerna. Setelah aku liat-liata, jatuhlah pilihanku pada 'Jadah Manten Jawa Tengah'. Hmm mengapa?
Pertama, ada kata Jawa Tengah, which is aku orang Jawa Tengah.
Kedua, hmm jadah itu khan dari ketan. Aku suka ketan, dan anakku juga suka ketan. Jadi, pasti kemakan neh ;;)
Ketiga, ingin mengenang JOGJAKARTA ku hiks hiks .... 'sentimen neh kalau alasan yang satu ini ;)'
Keputusan sudah ditangan. Nah, liat dateline nya ternyata masih lumayan bisa ke kejar. 'Kenangku saat itu'. Tapi apa daya, perutku sudah makin membesar, untuk jumpalitan masak sudah semakin susah. Apalagi kalau lagi kontraksi palsu, weiss ini susah ngapa-ngapain deh. Jadwal antar jemput sekolah Urel juga sudah digantikan sama suami, karena suami sudah tidak memperbolehkan nyetir lagi. Hehehe... keingetan kemarin ngejemput les bahasa Inggris Urel sambil nangis meringis meringis, abisnya perutku sakit banget. Kontraksi palsu lagi, tapi apa daya harus dijalanin. Namanya juga di rantau, harus bisa sendiri. Masih untung bawa mobil gak nabrak :D
Ups, kalender sudah mau menunjukkan tanggal 20. Huwalah belum bikin euy. Padahal resep udah ada hasil dari browsing. Tapi apa daya, kumaha atuh :D Trus di condo ada jadwal mati lampu dari jam 10 pagi ampe jam 3 sore pulak. Dimana kalau mati lampu, weiss gak iso ngopo-opo. Tapi bright idea, yaitu jalan-jalan ke pasar. Nah jalan jalanlah aku ke pasar sambil membeli beberapa bahan yang dibutuhkan untuk membuat si jadah manten ini. Dengan di temenin sama Aunty Jeannan. Dia antusias mendengarkan ceritaku tentang event ini, dan ingin segera mencicipinya.
Let's start to make it!!!
dibaca dari title nya bagi orang Jawa atau orang yang tahu bahasa Jawa, pasti sudah tahu, yaitu Jadah Pengantin. Jadah, dalam ingatanku langsung terbayang bahwa ini merupakan makanan yang terbuat dari beras ketan. Well, konon ceritanya si jadah manten ini merupakan makanan favorit dari Sri Sultan Hamengku Buwono VII. Jadi, jadah manten ini merupakan makanan terkenal dari Keraton Jogjakarta.
Jadah manten sebagai makanan terkenal dari keraton Jogjakarta, lama kelamaan makanan ini terkenal juga untuk daerah sekitarnya. Nah jadilah si jadah manten ini menjadi jajanan pasar juga. Namun sayang untuk saat ini agak susah menemukannya. Padahal makanan ini sangat enak dan mengenyangkan menurutku. Dan perlu dijaga agar tidak punah, karena merupakan makanan khas tradisional. Jadi tetep bernenek moyang, walaupun itu makanan. Apalagi mungkin kalau dikemas dengan cara yang lebih inovatif untuk lebih mengenalkan pada dunia luar, mungkin juga akan menjadi makanan terkenal di belahan daerah ataupun negara lagi. Bukan, bukan tanpa berpendapat seperti ini. Karena kadang disini 'Chiangmai-Thailand' merasa gregetan kalau melihat bagaimana mereka dapat menarik banyak perhatian dari para turis asing yang bisa menambah devisa negara. Padahal dilihat dari sumber daya yang ada di Indonesia, menurutku di Indonesia juga bisa bahkan lebih. Khan bisa juga diupayakan dari makanan. Disini juga dari berbagai aspek, hal hal kecil bisa jadi besar asal ulet, telaten, dan penuh semangat.
Kembali ke . Dilihat dari resepnya pasti beberapa orang akan beranggapan bahwa ini sama dengan semar mendem. Namun ada yang membedakan, yaitu cara menyajikannya dan proses pembuatan akhirnya. Jadah manten dengan daging ayam atau daging sapi cincang didalamnya membuat rasanya lebih enak dan dengan dibakar terlebih dahulu membuat aroma semakin menggugah selera untuk memakannya. Jadah manten ini juga dilengkapi dengan santan/areh yang membuat lebih gurih. Dan dengan dijepit bambu, membuat penyajian ini memang lebih terlihat tradisional, dan antik.
ini menurutku paling enak kalau dimakan pas anget-anget gitu, habis dibakar langsung dimakan. Untuk pembakarannya, dibakar diatas arang pasti tambah nikmat dan aromanya makin harus. Jujur, yang kubuat bukan dibakar diatas arang, karena di condo tidak boleh menyalakan api. Mungkin masih bisa diatasi dengan bakar-bakaran di halaman condo, tapi sepertinya juga gak ada tempat bakar-bakaran di bawah. Jadi aku panggang di oven, tapi aromanya tetep dapet walaupun tidak seharum kalau dibakar di atas arang.
Untuk menambah gurih, ketika dibakar, diolesi dengan areh yang sudah dibuat. Sambil di bolak balik. Gurihhh dan haruuummmm.....
Agar jepitan bambunya tidak meregang lepas, diujungnya diikat. Di dalam resep ditulis menggunakan pelepah daun pepaya, namun ada juga yang menggunakan buncis atau kacang panjang. Nah untuk aku kali ini menggunakan ikatan daun pandan.
ini pernah aku makan ketika sekitar tahun 2000 an, dimana aku masih tinggal di Jogja. Kala itu aku membelinya di kaliurang. Nikmat tenan makannya. Dingin, dengan bau bakaran yang harum, laper, banyak temen, weiss lengkap deh. Namun aku tidak tau sekarang, apakah masih ada atau enggak. Mungkin kalau sekedar ketan bakar masih mudah didapat, tapi kalau yang sudah menjadi jadah manten ini, susah kali yah. Berdasar cerita temen disana, jadah manten ini sudah rada susah didapat. Mari kita budayakan makanan tradisional yang antik dan enak ;) Gak kalah kog enaknya dengan makanan barat, kalahnya cuman kalah promosi :D
Resep yang aku pilih berasal dari sini. Berikut aku tuliskan resepnya.
Bahan:
- 250 gr beras ketan, rendam selama 1 jam
- 125 ml santan dari satu butir kelapa
- 1/2 sdt garam
- 1 lembar daun pandan
- tusuk sate dari bambu yang lebar, [aku menggunakan tusuk sate besar, namun gak lebar]
- tangkai daun pepaya, [aku menggunakan daun pandan]
Isi:
- 1 buah dada ayam, rebus hingga matang, angkat suwir-suwir
- 1 lembar daun salam
- 2 lembar daun jeruk
- 1 batang serai, memarkan
- 125 ml santan
- 1 sdm minyak untuk menumis
Haluskan:
- 1/2 sdt ketumbar
- 2 siung bawang putih
- 3 buah bawang merah
- 2 butir kemiri
- 1/2 sdt garam
- 2 sdt gula merah
Dadar telur :
- 4 butir telur
- 2 sdm tepung terigu
- 10 sdm air
- 1/2 sdt garam
Areh:
- 125 ml santan dari 1 butir kelapa
- 1/2 sdt garam
Cara membuat :
- Isi: panaskan minyak, tumis bumbu halus hingga harum, tambahkan serai, daun jeruk, daun salam, masak hingga harum dan matang. Masukkan ayam suwir dan santan, masak sampai kering, angkat, dinginkan.
- Campur semua bahan dadar hingga rata, buat dadar tipis-tipis, sisihkan.
- Campur semua bahan areh dan didihkan hingga kental.
- Kukus ketan dengan daun pandan sampai setengah matang, keluarkan dari dandang, tuang santan, beri garam, jerang kembali di atas api kecil sampai santan terhisap habis oleh ketan. Kemudian kukus kembali hingga matang.
- Penyelesaian: angkat ketan selagi panas, tuang dalam loyang datar setinggi 1 cm, tabur isi hingga rata, tutup dengan ketan lagi, padatkan, lalu potong 3 x 4 cm. Bungkus setiap potong ketan dengan selembar dadar telur. Untuk pemotongan ini, aku sesuaikan dengan lebar dadar telur yang aku buat.
- Jepit setiap ketan dengan tusuk sate dari bambu yang terbelah tengahnya. Rapatkan kedua belah bambu dengan sepotong tangkai daun pepaya agar tidak terbuka.
- Panggang diatas bara api sambil diolesi santan areh. Pemanggangan ini aku lakukan di oven, karena alasan yang sudah saya kemukakan di atas.
|
Begitulah laporan untuk event Mbak Rurie kali ini. Untuk poto potonya sperti biasa masih jauh dari bagus :D apalagi disini lagi mendung, tapi yang penting ikutan eventnya aaaaahhh ... Sukses terus yah mbak. Ini event bagus banget deh. Alhamdulillah bisa ikut berbartisipasi.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
All about my recipes page, here.- Happy Baking! Have a nice day ;) Chiangmai. Thailand
<< back to the top
|