![]() |
|
|
![]() |
| Posted: | Monday, 29 Dec 2008 |
| by: | Kitchen Cake |
Sudah lama tidak meng-update halaman ini. Sebetulnya cukup banyak tempat wisata di sekitar Chiangmai yang kami kunjungi, tetapi belum sempat berbagi cerita disini. Aku akan mencoba satu-persatau yah. Nah kali ini, jalan-jalan kami yang paling baru, yaitu ke Doi Pui. Tepatnya Doi Pui Village, bukan yang Bhubing Palace. Village ini masih terus dari Bhubing Palace, menuju balik gunung. Jalanannya lumayan sempit. Tetapi karena jiwa petualang kami, jadi semua lebih mudah ;) Jalan setelah Bhubing Palace menuju village ini memang berbeda, kalau dari Chiangmai menuju Bhubing Palace jalannya hotmox, tetapi setelah itu jalannya tidak hotmix ;)
Kami mengunjungi tempat ini karena ingin melihat bunga pink yang sedang mekar. Informasinya dari temen-temen suami di kantor. Katanya mekarnya hanya sekitar 2 mingguan, jadi harus mencari waktu yang tepat. Tadinya mau kesini satu minggu yang lalu, tetapi katanya belum bermekaran.
Dalam perjalanan, selama menuju ke Doi Pui sebetulnya kami sudah melihat beberapa bunga pink bermekaran di atas pohon, tetapi katanya tempat yang banyak bunga pink nya ada di terusan Bhubing palace. Teruslah kami menelusuri jalan itu. Jadi, kita terus menelusuri jalan terusan Bhubing Palace itu. Nah tiba di suatu pertigaan, dimana yang ke arah kiri itu seperti menuju jungle, nah yang ke kanan itu serasa lebih ramai, dan kebetulan ada mobil-mobil yang melewati jalan itu. Sedangkan yang kekiri tidak ada mobil yang lewat. Jadi, kami memilih jalan yang ramai.
Akhirnya kami sampailah di suatu village yang ramai. Bener-bener itu suatu village yang diberdayakan untuk menarik wisatawan asing. Dilihatnya sih seperti village biasa gitu yang ada di balik gunung. Pokoknya masuk ke village itu banyak tanda tanya yang ada. beneran neh ini tempat wisata? Apa yang mau dilihat? Kog ramai yah pengunjungnya?
Weislah pokoknya banyak deh pertanyaanya, soalnya tempatnya dilihat biasa ajah, kayak village-village biasa di Indonesia. Tetapi gak mau puts asa, jalanin ajah, liat ajah apa yang ada di dalamnya. Untuk parkir ke dalam jalannya hanya cukup untuk satu mobil dan bayarnya 30 Baht. Setelah parkir mobil, kami belum tahu mana yang mau di kunjungi. Pokoknya ikutin saja orang-orang yang berwisata disitu.
Parkiran yang dibuat itu seperti sebuah tanah lapang dari sekolahan yang ada di depannya. Disekitarnya ada bapak-bapak dan anak-anak yang sedang bermain gangsing.
Setelah dari parkiran, kemudian menuju village yang terlihat sepertinya hangat di dalamnya. Pertama yang terlihat yaitu main panahan, tiga kali manah tiketnya 10 Baht. Nah, Papa Urel mencobanya. Targetnya adalah buah-buahan. Untuk memasang busurnya perlu perjuangan karena kata Papa Urel keras sekali, susah nariknya. Tetapi enjoy. Banyak orang wisatawan yang memainkannya.
Kemudian perjalanan dilanjutkan, jalan masuk ke village itu menanjak. Nah yang dilihat setelah permainan panahan adalah orang-orang yang bejualan souvenir di sepanjang jalan. Souvenirnya hampir semua ada di Night Bazar, karena sepengetahuanku yang di Night Bazar juga ngambilnya dari village-village gitu. Jadi terasa gak ada yang aneh, karena sering sekali jalan di Night Bazar ;) Untuk comparing harga, rasanya aku tidak bisa, karena aku pelupa soal harga barang souvenir :D Kayaknya sih sama saja, mungkin di village ini ada yang lebih murah tapi aku tidak concern apa saja yang lebih murah. Yang penting jalan-jalannya, kalau ada barang yang di suka yah itung-itung khan menyenangkan orang village, dan mungkin itu memang rejekinya, jadi jarang sekali membanding-bandingkan harga sampai sedtil mungkin.
Ok, lanjut ke jalan-jalannya. Setelah melewati beberapa penjual souvenir, akan terlihat suatu museum. Wah di village ada juga yah museum, walaupun ala kadarnya. Serius, museum ini di dalamnya memang terlihat seperti tak terawat dengan baik, karena debu menempel dimana-mana, dan sarang laba-laba. Tetapi wisatawan pun tetap masuk ke museum ini. Bayarnya per-orang 10 Baht. Di dalamnya isinya patung-patung yang menjelaskan bagaimana kehidupan orang-orang village disitu. Dari pernikahan, hidup sehari-hari hingga funeral.
Setelah dari museum teruslah berjalan hingga menemukan orang-orang yang berjualan souvenir, banyak, seperti pasar. Masih seperti di Night Bazar. Kemudian kita lihat petunjuk jalan yang sepertinya unik, dan masih tetap mencari dimana bunga bunga itu berada. Akhirnya ditemukanlah sebuah garden. Disitu banyak bunga, namun bagiku sebetulnya biasa saja. Kadang heran, dalam pikiranku, di Indonesaia sepertinya lebih kaya akan bermacam-macam bunga dan budaya, tetapi belum bisa menarik wisatawan seperti disini.
Di garden ini, banyak penduduk setempat yang berbusana khas village tersebut yang menawarkan jasa foto. Maksudnya berfoto bersama mereka di tengah garden. Namun kami tidak melakukannya. Akunya sibuk memfoto bunga bunga yang ada. Beberapa foto bunga yang kuambil bisa dilihat di flickr ku.
Nah, masih tetep penasaran. Mana yah bunga-bunga pink yang bermekaran itu??? Karena disini hanya bunga-bunga biasa yang sering kulihat di tengah kota juga ada. Akhirnya suami nanya ke temennya, namun apa daya sinyal rada susah. Jadi tak dapat jawaban yang pasti dimana tempat bunga pink itu berada. Kulihat hanya beberapa pohon berbunga pink yang ada disitu. Dalam hati bertanya, inikah bunga yang disebut sebut itu???
Petualangan tetep berlanjut. Di sekitar garden itu disamping ada bunga-bunga, ada juga waterfall dan alat penumbuk traditional. Bisa dilihat di gambar, dibawah ini.
Setelah puas di garden, kami kembali ke pusat keramaian. Disana kami melihat sedang ada pertunjukkan penduduk dengan menggunakan pakaian traditional. Mungkin pertunjukkan akhir tahun. Kami singgah sebetar di keramaian itu, karena cuaca sudah mulai dingin banget. Sebetulnya ada kopi panas, tapi apa daya sedang hamil, gak bisa deh minum kopi panas :) Jadi kami melanjutkan perjalanan menelusuri daerah itu, hingga akhirnya sampai di ujung jalan. Akhir dari village itu. embali ke parkiran dan pulang. Dalam hati masih penasaran, dimana seh sebetulnya daerah pink flower yang sepertinya menjadi pembicaraan hangat. Hehhehe ....
Finally, setelah kembali ke kota, temen Papa Urel nelpon dan ngasih tahu daerah yang banyak pink flower itu adalah sekitar 6 Km dari pertigaan yang menuju seperti jungle itu. Hehehe... Gpp deh, yang penting sudah having fun di village garden di Doi Pui itu. Dan sudah melihat seh pink flower itu walaupun gak banyak banget, tapi sudah puas.
Segitu dulu yah berbagi ceritanya, insyaAllah nanti dilanjutkan ke tempat yang lain lagi. Masih banyak seh yang belum di ceritakan, mudah-mudahan waktunya ada ;)
See yaaaaa....
Foto-foto yang lain bisa dilihat di flickr-ku.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------



